Vita Activa 3 Sahabat
Cerpen by: Cahaya Hikmah
“Zahra, Tiva, ikut aku yuk”.
ajak Ilma “Kemana?” “Itu, aku mau ke stand fotografi, pengen daftar ikut klub Fotografi”
saut Ilma. “baiklah, ayo” . dan akhirnya Ilma pun daftar untuk rekrutmen
keanggotaan baru fotografi.
Zahra, Ilma bersekolah di Sekolah Mumtaz Ilmu yang tidak jauh dari
ibu kota Faina, ibu kota dimana dia tinggal. Memang terdapat banyak kegiatan
ekstra yang dibentuk menjadi organisasi dan klub untuk meningkatkan kreatifitas
dan menjaring kemampuan para siswa.
Pagi yang indah Sekolah Mumtaz Ilmu dengan keindahan alam yang
masih terjaga di tengah hiruk-pikuk kota yang entah bagaimana akan
terdeskripsi, sehingga sekolah ini mampu membuat siapa yang di dalamnya nyaman
dan tenang untuk menata hati, mulai berekspresi serta menuai prestasi para
siswa. Dan sekolah ini bisa juga dibilang elit, karena memang termasuk sekolah
favorit di kota Faina. Kelas dimana Zahra dan Ilma belajar pun berjalan dengan
kondusif, jam dua keluar kelas dan dilanjutkan kegiatan ekstra yang diadakan
sekolah bagi peminat masing-masing kegiatan.Zahra menekuni fotografi, klub yang
ia masuki bebrapa hari lalu.
***
Belajar seperti biasanya, dan mengikuti pelajaran dengan tenang,
tanpa kebisingan dan ganggupan itulah keseharian yang dilakukan sekolah ini,
dan siswapun mengikuti pelajaran dengan enjoy. Tapi berbeda Tiva, sejak
kejadian pagi tadi ketika dia berangkat ke sekolah dengan menemukan suatu hal
yang mungkin sangat asing dan tak pernah ada dalam benak Tiva. Dihari
selanjutnya Tiva berangkat ke sekolah Mumtaz Ilmu lebih pagi lagi dan benar
kejadian itu terulang lagi, dan diam-diam Tiva tidak bisa memalingkan
perhatiannya akan hal tersebut dan bertindak cuek, Tidak.
>>> Istirahat sekolah
Tiva mencoba untuk memberanikan dirinya menanyakan dan bicara
langsung pada nenek tua yang sedang meminta-minta tersebut.
“nak, minta nak, nenek laper nak” terdengar lirih suara nenek
tersebut meminta dan memelas pada siapapun tanpa memandang entah anak-anak,
remaja ataupun dewasa. “ini nek” Tiva memberikan uang seribuannya satu. “nek,
kenalin nama saya Tiva, yang sekolah di seberang sana, Sekolah Mumtaz Abadi”
“ia, terimakasih nak, semoga diberi ilmu yang banyak ya, dan pinter” “amin,
makasih nek”. Sengaja Tiva menghampiri nenek pengemis tersebut dengan maksud
sepulang sekolah nanti bisa berkomunikasi sama sang nenek dengan lebih enak,
seperti apa yang telah ada dan terencana dalam benak Tiva.
Dan benar sekali, sesuai dengan dugaan Tiva, nenek tersebut masih
ada di seberang sekolah, tempat sedari pagi jadi lahan buat mengemisnya.
>>> rencana sepulang sekolah
“Siang nek, masih ingat dengan saya kan, yang tadi pagi. Maaf nek,
boleh Tiva nanya sesuatu ga nek?” –kebetulan waktu itu jalanan sepi karena
sudah menjelang sore- “iya, silahkan saja” “kalau boleh tau nenek tinggal
dimana nek, dan yang biasanya nganter nenek itu
siapa? Maaf nek, Tiva sempat lihat nenek diantar waktu itu pakai motor”
“nenek tinggal di rumah Kotak Kita, tempat dimana kita bersama disana” “ tempat
kita bersama? Emang keluarga nenek semua disana?” “bukan, suami nenek
meninggal, nenek sebatang kara, nenek tinggal dengan para pengemis yang lain,
yang sudah dianggap saudara sendiri, disana kita dibantu dan ketuai oleh orang
yang lebih muda, dikasih tumpangan tinggal untuk bisa neduh namun kita harus
juga mencari uang” Tiva merasakan nenek sedikit jengkel dan enggan menceritakan
lebih dalam masalah kehidupannya dan akhirnya Tiva memutuskan pamit.
Tidak berhenti usaha Tiva untuk mencari tau tentang kehidupan nenek
tersebut ataupun para pengemis disekitar hidupnya yang dirasa oleh Tiva tidak
masuk dalam nalarnya kenapa mereka yang sehatpun harus mengemis.
Setiap ketemu sama pengemis, Tiva mencoba ramah dan mulanya
memberikan uang. Pagi itu Tiva bertemu dengan pengemis cilik yang seusia anak
SD. Tiva sok PDKT pada anak tersebut dan memberinya uang “dek, siapa namanya?
Kenalin, kakak namanya Tiva” setelah terjadi beberapa percakapan anak tersebut
sekolah dan siangnya harus mengemis karena disuruh orang tuanya. Semakin miris
hati Tiva mendengar fenomena sekelilingnya tersebut.
***
Haripun berlalu dan ujian semester disekolah SMA Mumtaz Ilmu
tinggal dua minggu lagi yang berarti siswa harus lebih serius lagi belajar dan
bahkan sekolah memberikan kelas tambahan khusus untuk pelajaran tertentu.
Teori Evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin memang
terbantahkan oleh perkembangan pengetahuan dan penelitian setelahnya. Darwin
meneliti manusia dengan kera terdapat banyak kesamaan dari segi fisiknya
sehingga ia memberikan asumsi demikian diawal penelitiannya. namun kalau boleh
bapak sinergikan dengan keilmuan lainnya yaitu manusia dan hewan bedanya
manusia diberi akal, kalau akal sehatnya tidak dipakai maka tidak lebihnya
sifat manusia seperti binatang. Karena moral, akhlak dan ilmu ketika itu tidak
berlaku pada dirinya. Seperti teori dari seorang ilmuan barat, Hannah Arend
dengan teorinya Vita Activa (Kehidupan aktif) bahwa aktivitas manusia adalah;
kerja- karya- aksi dan melalui karya manusia membedakan diri dari binatang. Oleh
karena itu berkaryalah dengan sejuta kemampuan kita dan tindakan nyata dengan
hal positif apasaja, bisa prestasi, tulisan, tindakan sosial dan lainnya, agar
Hannah Arend tidak memasukkan kita pada unsur hewan, hehe setuju Tiva, Ilma? (canda pak Lutfi, guru Biologi yang
memang suka memberikan selingan kata positif dan sekaligus humor dalam
mengajarnya). Baiklah dilanjut ya ke pembahasan evolusi ya...
Selesai sekolah Tiva, Ilma dan Zahra keluar kelas bersama sebelum
akhirnya mereka berpencar, Tiva sambil memikirkan apa yang di ucapkan Pak Anam,
berkarya dan peduli. Yap ‘berlari mengejar mimpi memang penting, namun
melihat sekitar dan berbagi itu juga tidak kalah penting’ semangat Tiva?
Gumam Tiva dalam hati.
Hari-hari setelahnyapun Tiva mulai care terhadap hal-hal
yang terjadi disekitarnya, yakni masih kepikiran seputar pengemis tua,
anak-anak dengan berbagai cara mereka mengemis. Sesekali Tiva melihat anak
kecil minta-minta namun paginya diantar ibu-ibu yang menunggunya di halte, dan
ternyata dapet kabar dari temen yang pernah juga ngobrol sama anak tersebut
bahwa orang yang biasa mengantar anak tersebut adalah orang tuanya.
‘Teriris hati ini melihat kejadian itu, tapi apa Tuhan yang bisa ku
perbuat untuk mereka’ tulis Tiva dalam Diarinya.
***Sebulan kemudian***
Open Rekrutmen ‘Kita Peduli’.
“Zahra, Ilma, barengin yuk, mau ke stand itu.” “kenapa Tiv? Mau daftar ya?” tanya Ilma “iya”
“oke siap, yuuk” saut Zahra dan Ilma. Mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan
ekstra masing-masing namun masih bisa berkumpul sekedar makan siang bersama,
Zahra dengan klub Englishnya, Ilma Fotografi dan Tiva mau masuk komunitas ‘Kita
Peduli’ yang ada di luar sekolah. Tiga sahabat yang semangat menggapai mimpinya
dan cita-cita masing-masing namun tidak membuat mereka berjauhan.
Dua minggu setelah orientasi keanggotaan Kita Peduli, Tiva mulai
mengikuti alur apa yang ada di komunitas tersebut, dia mulai aktif mengikuti
kegiatan sosial, musyawarah, memberikan sumbangan ide dan lainnya.
“Kakak pembina dan temen-temen semua, saya punya usul nih,
bagaimana kalau kita nambah kegiatan selain kegiatan eventual tanggap bencana,
Sekolah Kita (ngajar anak usia SD) yang tidak bersekolah. Bagaimana kalau kita
mainkan peran dengan Perbaikan mental dan mindsetnya para pengemis, karena bisa
kita perhatikan bersama, dari Faina ini bukannya jumlah mereka semakin sedikit
malah semakin banyak, berarti ada yang salah dan perlu kita pedulikan bersama.
Mungkin bisa kita mulai dari orang tua sampai dengan anak-anak dengan
penempatan kelas atau grupnya masing-masing” kata Tiva “terus bagaimana
caranya?” celetuh Syamlan, temen organisasi Kita Peduli Tiva “mungkin karena
memang target utama mereka adalah uang, yang ingin didapat. Akan sedikit sulit
mengajak mereka beralih profesi. Sembari kita memberikan motivasi dan arahan
lewat visualisasi dan lainnya kita akan langsung mengajak Usaha Cerdas, membuat
keterampilan dan mencari pembeli dan juga kerjasama dengan lembaga sosial agar
mereka mendapat tunjangan bulanan sembari menyesuaikan diri dengan kehidupan
dan kebiasaan baru mereka, mungkin awal-awal tidak langsung setiap hari bertahap
mungkin bisa seminggu tiga kali, namun mereka harus tetap dikawal” tambah
Pembina Kita Peduli, kak Jamil “dan kita juga bisa membuka volunteer kegiatan
ini.” Tambah Tiva –
Kegiatan mulai mereka jalankan, tentu tanpa mengganggu jadwal
sekolah bagi yang masih sekolah. Tiva dan teman yang masih dibangku sekolah
bergerak di weekend dan setiap pulang sekolah mampir ke tempat binaan
dan kebetulan komunitas ini bukan di dalam sekolah, namun komunitas luar
sekolah. Sehingga mahasiswa dan umumpun bisa mengikuti dan partisipasi lebih di
dalamnya.
***Tiva, Zahra dan Ilma
Jam istirahat tiba.
“Tiv, gimana komunitas kamu? Lancar mengikuti kegiatan disitu?” Ilma
membuka obrolan “iya, alhamdulillah, kalau kalian gimana? Oh ya, selamat ya
Ilma, kemaren telah mewakili sekolah dan menjuarai kaligrafi di provinsi” saut
Tiva “iya terimakasih, Zahra juga tuh, dia udah kayak bule aja sekarang Bahasa
Inggrisnya, hehe” tambah Ilma. “pokoknya kita harus tetap semangat dan
menseriusi apa yang kita inginkan, agar menjadi manusia yang berkarya, dengan
karya berarti kita udah aksi. Itulah manusia seutuhnya. Masih ingatkan
kata-kata pak Lutfi waktu itu” saut Zahra penuh semangat.
Menabur perbuatan tuk menuai kebiasaan, menabur kebiasaan tuk
menuai karakter karena ia terbentuk melalui perjalanan hidup. Mereka yang
peduli, mereka yang berkarya karena melewati jalan tersebut (mereka bertiga
terdiam sesat mengingat kata-kata tersebut sembari tersenyum bersama tanda ia
siap).
Cinta bukan dengan ungkapan, tapi dengan tindakan, mencintai diri
sendiri, alam dan negeri tercinta adalah dengan bukti.
Komentar
Posting Komentar