1.
حَدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، قَالَ: قَالَ الْشَّافِعِيُّ:
أَخْبَرَنَا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ:
«لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ، وَإِذَا خَرَجْنَ
فَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ» . قَالَ الرَّبِيعُ: يَعْنِي: لَا يَتَطَيَّبْنَ
2.
أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ
سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ
أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَا يَمْنَعْهَا»
3.
قُلْتُ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي
سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي
مَحْرَمٍ»
4.
حَدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، أَخْبَرَنَا الْشَّافِعِيُّ،
قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي
مَعْبَدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَخْطُبُ يَقُولُ:
«لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ
تُسَافِرَ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ» [1]
Hadis pertama
sekalipun ingin memberikan kebebasan kepada hamba perempuan Allah untuk
menjalankan kebaikan, namun perlu digaris bawahi tentang cara pelaksanaannya.
Redaksi wa idza kharajna fal yakhrujna tafulât (ketika mereka keluar,
hendaknya mereka keluar dengan tanpa berhias yang berlebihan). Tafulat dalam
hadis di atas ditafsirkan oleh al-Rabi’ murid al-Syafi’i dengan la
yatathayyabna (tidak memakai wewangian). Wewangian di sini dapat
dipahami sebagai wewangian yang berlebihan
Hadis yang kedua
menerangkan tentang pembolehan izin perempuan yang mau ke masjid. Sedangkan
hadis yang ketiga dan ke empat secara dhohir melarang perempuan keluar tanpa
disertai mahram dikarenakan jarak yang jauh.
Dalam menyelesaikan
hadis yang secara dhohir bertentangan ini Imam Syafi’i mengambil jalan jam’u.
Yaitu perempuan boleh ke luar ke masjid dengan tidak tidak memakai wewangian/
hal-hal yang berlebihan. Dan kalau pergi itu jauh maka disertai dengan mahram,
hal itu dahulu karena tidak ada kendaraan yang bisa menjangkau dengan cepat
sebuah tempat.
Jadi hadis tersebut
bisa sama-sama digunakan dengan metode jam’u yaitu dengan syarat tidak boleh
terlalu menor/ berlebihan dalam berpakaian dan kalau jauh sebaiknya bersama
mahram. Tidak mengharuskan dengan mahram karena hadis itu turun dengan alasan
kejauhan sedangkan kendaraan waktu itu tidak manual, memakai hewan bukan mesin
yang cepat. Jadi kalau sekiranya dari segi keamanan diperjalanan sudah terjamin
maka tidak apa sendirian.
Komentar
Posting Komentar